Selain jadi judul lagunya Sal Priadi, Malang memang dikenal karena talenta musiknya. Salah satunya, ada Peni yang nongol bawain single terbaru. Adalah Ken Baruna (gitar/vocal), Gilang Domisilafa (gitar/vocal), Ardian Bagus (bassist) dan Aldian Ibanez (drummer), empat pria melankolis yang bergabung dalam satu nama ini membawakan lagu untuk orang-orang yang berusaha bertahan dalam sebuah ruang hidup bernama Kota (iya, ini juga jadi judul single terbaru mereka, red). Jenis musik yang mereka bawakan adalah power pop/ indie rock/ fuzz rock, jadi buat kamu yang kebetulan suka Weezer, The Smashing Pumpkins, Nada Surf atau sejenisnya, kenalan sek sama mereka dibawah ini ya!
Peni mengusung aransemen yang ringan. Dan disitulah letak kekuatan mereka. Single Kota ini bisa dicerna tanpa bikin kamu mikir. Just listen and enjoy it di saat kondisi batinmu lagi nggak baik-baik aja karena satu hal tertentu. Liriknya pun bukan tipe lirik yang sendu. Lebih kayak ekspresi keluh kesah seseorang yang hidup di dalam kota dengan isi hati yang butuh diluapkan tapi dengan cara yang berbeda. Yang penting perasaannya keluar dulu, kalo dipendam terus rawan jadi edan tuh.
Yang bisa bikin kamu merasa relate dari liriknya. Mulai dari sini:
Gedung kota simetris diam membisu
Lurus dan tanpa makna
Aku berbaring layu sendiri
Berharap yang ku rasa tak lagi semu
‘Gedung kota simetris‘ bagi pemahaman Dildu adalah sesuatu hal yang “normal”. Kalau dipahami, bentuk simetris ini adalah bentuk yang “mengikuti pakem”; lurus menjulang, tapi ujungnya kelihatan dan justru dari situlah nggak ada makna yang bisa diambil. Barang wis ketok soale. Beda kaitannya dengan pakem kehidupan yang arahnya tetap lurus tapi nggak melulu kelihatan ujungnya. Dan ini lah yang mempengaruhi manusia di tiap detik nafasnya: apakah nanti kamu akan bahagia atau berakhir sedih, merasa khawatir akan hari esok atau memilih fokus di hari ini. Selebihnya bisa kamu pahami sendiri di dua baris selanjutnya.
Burung gereja, bau jalanan
Tanah basah di sela sepatu
Kupandangi langit yang buram
Di kota ini tak lagi berarti
Burung gereja adalah simbol harapan, karena dia bisa terbang tinggi kemanapun dia melaju sama kayak pikiran. Sedangkan, bau jalanan adalah rutinitas yang dihadapi sehari-hari dan tanah basah di sela sepatu adalah apa yang masuk ke dalam batin dari tantangan yang dihadapi dalam keseharian – yang membosankan, menyakitkan, menekan, atau hal-hal lainnya yang merangsang perasaan tertentu dalam tiap langkah kehidupan. Lalu, ‘langit yang buram‘ adalah bayang-bayang yang membuat orang jadi menyerah, pasrah atau mati rasa yang ujungnya putus asa. Dalam lagu ini, Peni menggambarkan hubungan kota sebagai ruang hidup dan perasaan manusia didalamnya dengan sedu-sedan dan keterpurukan masing-masing. Umumnya, lagu ini untuk orang-orang yang merasa aus akibat terpaan kehidupan. Feeling numb, meaningless, and sometimes makes you feel sick or stuck, you name it.
Bosan dan menua
Sayu dan mengering
Aku biarkan waktu menelanku
Ini titik klimaks yang getir. Nggak ada solusi. Cuman mau bilang sejujur-jujurnya dan lalu pasrah. Pokoknya ben Gusti Pangeran sing ngatur, kapanane tak atur dewe malah blawur. Ini mungkin yang lagi terjadi di realitamu, entah karena sebab apa. Kota jadi punya cerita karena manusia didalamnya punya rasa.
Dan, lagu yang berdurasi tiga menit sepuluh detik ini menyajikan sesuatu yang ringan tapi sebenarnya dalam kalau kita mau menyelam; rasanya lagu ini relevan untuk mewakili perasaan. Liriknya juga nggak muluk-muluk, gampang dibaca, gampang dimengerti. Justru disinilah kekuatannya. Coba aja dengerin sendiri.
Ketimbang dua single sebelumnya, Kota adalah versi yang lebih introspektif, jujur dan apa adanya. Justru dari sinilah Dildu makin penasaran sama BIG IDEA dari EP album mereka yang katanya rilis tahun 2026 ini. Semoga selalu bisa bikin orgasme telinga ya, Peni!

