Surabaya ketambahan satu band Hardcore/Metal/Crust/D’Beat Punk yang akhirnya rilis juga. Adalah Marax yang merilis maxi-single mereka yaitu Barak dan 1482 setelah EP mereka Sharp Knife (2022) dan Toward Eternity (2024) lebih dulu mengudara.
Kini Marax punya suara baru (baca: vokalis) di lini depan yaitu Ilham Majid yang melengkapi formasi Herlambang (gitar), Yuka (gitar), Erzha (bass) dan Rizal (drum). Dalam perilisan maxi-singlenya, lima pria berlidah api ini menulis lagu yang relevan bila kita menelisik ulang peristiwa Petrus (1982-1985) di era Soeharto. Yuk, lanjut kenalan sama band yang satu ini!
Bisa dibilang Marax ini pengusung genre Crust / D’beat Punk, namun warna musiknya lebih beragam. Ada sentuhan warna Grindcore, Black Metal, dan sentuhan Death Metal di bagian tempo drum. Gabungan warna musik tersebut membentuk nuansa gelap dan psycho, yang bikin band ini cocok jadi pengisi soundtrack adegan menegangkan di film-film thriller macam Saw, Texas Chainsaw Massacre, dan sejenisnya. Khusus di maxi-single mereka kali ini, Dildu mengupas dalam dua bagian ulasan yang bisa kamu simak dibawah ini.
BARAK: TENTANG PRAJURIT YANG MASIH PUNYA HATI DAN PERISTIWA PETRUS 1982-1985 DI INDONESIA
Berdurasi tiga menit lima puluh enam detik, Barak sudah memberi kesan teror di awal lagu. Disusul gempuran drum yang masuk secara tiba-tiba, memberi hentakan yang rasanya begitu relevan dengan lirik yang menceritakan tentang “eksekutor stabilitas negara” yang sebenarnya menyimpan nurani kemanusiaan. Dibuka dengan bait pertama:
“Kau terjebak dan tersiksa / terpatri perintah dari barak / mengekor pimpinan / buat barisan / terpatri perintah / dari barak”
Sebuah kegelisahan seorang prajurit yang digambarkan di awal cerita, Dildu membayangkan jadi prajurit tersebut yang justru merasa terjebak dan tersiksa karena perintah yang sifatnya “fardu ain”. Menerima perintah mobilisasi, berbaris dengan yang lain…
“Menuju jalanan / bersuara lantang / kan tarik pelatuk batinmu goyah / kau pertanyakan atas nama / tumpah darah / demi siapa”
Ada kemungkinan bahwa seorang prajurit merasakan hal seperti ini. Dildu memahami bahwa Marax memposisikan prajurit sama dengan manusia yang masih punya hati dan pikiran namun terikat tali komando. Terlepas dari lantangnya suara nyalak senapan demi “stabilitas dan keamanan nasional”, ini tetap saja berakhir memakan korban. Dan, bagian inilah yang kadang bikin prajurit kena mental.
Di suatu sisi, Marax mengeksplorasi kemungkinan adanya sisi nurani, namun selebihnya justru malah meneror. Ini terlihat jelas dalam bait lirik selanjutnya:
“Kau pun sadar / mereka terjebak / sesak nafas / empatimu datang menyeruak / patuh perintah demi citra / atau nyawa seharga surga / celaka! / kau terlambat / jemarimu menembak, neraka jadi kiblat / peluru melesat / horor mencekam / tumpah darah demi siapa”
Dalam bait ini, Marax seolah meneriaki si prajurit hayoo kon yoooo hayoo kon yoo, setelah dia menembak jatuh seseorang, yang lalu menggelepar ke tanah, nafasnya sesak karena lesatan peluru yang kini bersarang di dada orang itu, dan dari situ empati prajurit mulai bersuara lantang menjadikan perdebatan batin yang semakin sengit. Ini perintah, tapi bikin celaka. Barangkali neraka menanti si prajurit di akhir hayatnya. Terlepas dari citra dan kepentingan siapa, namun begitu lah nasib prajurit yang posisinya sebagai eksekutor negara.
Hal semacam ini mengingatkan Dildu pada peristiwa Petrus (Penembak Misterius) di zaman Soeharto. Mengapa dari sekian banyak kasus penembakan di era itu, fokusnya ke Petrus?
Ini karena ada dampak psikologis pada rakyat, khususnya lewat unsur kesengajaan rezim untuk membuang mayat korban ke selokan, jalanan, bahkan di pasar yang notabene lokasi ramai aktivitas dan lalu-lalang. Ini yang disebut sebagai shock therapy demi menjaga stabilitas negara. Petrus yang juga dikenal sebagai Operasi Clurit atau Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK) memberikan peran eksekusi pada aparat (baca: prajurit) lewat penembakan yang terjadi di kurun waktu 1982 – 1985 di Indonesia. Satu hal yang bikin Dildu merasakan relevansinya dengan lagu ini dari cerita keluarga tentang sanak famili yang purnawirawan ABRI di zaman itu menanggung rasa berdosa dan beban mental terhadap korban yang dibunuhnya di jalanan. Beban itu tetap mengendap sampai akhir hayatnya.

1482: BAGAIMANA JIKA PARA KORBAN PENEMBAKKAN ITU MENJELMA FREDDY KRUEGER?
Setelah Barak, ada single selanjutnya yang berdurasi dua menit tiga puluh detik. Yap, ini adalah 1482. Single lanjutan yang terasa relevan dengan apa yang baru aja Dildu bahas sebelumnya, sebuah aftermath dari perasaan berdosa seorang prajurit yang menjalankan perintah untuk menembak mati warga sipil, terlepas siapa mereka. Dalam single ini, Marax mengadopsi kisah Freddy Krueger dalam Night On The Elm Street. Dikisahkan, Freddy dibakar hidup-hidup setelah ketahuan membunuh banyak anak kecil. Tapi, di film, Freddy justru kembali meneror lewat mimpi buruk dan mengincar anak-anak dari orang tua yang turut ikut membakarnya sebagai bentuk pembalasan dendam. Sebuah film supranatural besutan Wes Craven di tahun 1984 ini termasuk dalam produk budaya populer.
Lain di Marax, setelah membahas rasa berdosa seorang prajurit di Barak, 1482 bikin Dildu membayangkan: gimana kalau korban penembakan itu justru gentayangan dan mendamprat penembaknya? Bait lirik pertama sudah sangat jelas:
“Aku hidup / menjelma di dalammu / terbangun dibawah sadarmu / aku datang seraya menikammu / sambut diriku
Bagian pembuka yang terasa supernatural, relevan dengan cerita Night on The Elm Street yang diadopsinya. Namun secara posisi, ini adalah prajurit yang harus menerima “teror” dari korban nyalak senapannya.
Secara instrumen, lagu ini terdengar lebih menghentak dengan tempo yang cepat. Seolah, tiap gepukan drum, distorsi dan nyalak suara Ilham Majid adalah arwah gentayangan para korban itu sendiri yang sedang meraung bertanya: “kenapa? Kenapa aku harus dibunuh tanpa diadili secara hukum yang sah? Kenapa jasadku harus dibuang di selokan? Kenapa anak istriku harus melihatku terkapar ditembak?”
And so it goes. Bayangkan sendiri kisahnya dan dengarkan maxi-single Marax yang diproduksi oleh Her’s Room ini. Dan satu lagi, itulah kenapa Marax pantas menyandang kesan horor sebagai entitas band. GOKS!

