Di kota Surabaya yang sepanas itu kalo lagi kemarau dan bisa sebadai itu di musim penghujan, lahir lah The Mary’s Lost Gaze, band pendatang baru alternative shoegaze yang merilis lagu perdana Call Me Tonight.
Simply said, amunisi pertama dari band start-up ini Dildu rekomendasikan sih. Alunannya yang lembut, suara vokal yang merdu, instrumennya juga bikin melayang alih-alih cuma ndingkluk kayak stigma Shoegaze yang udah banyak orang tahu. Kalo mau skip langsung dengerin lagunya, ada di Spotify, Deezer dan platform musik kesayangan kamu, tapi kalau penasaran lanjut aja sampai bawah.
Terbentuk di tahun 2025, setahun berlalu sejak artikel ini ditulis. The Mary’s Lost Gaze menciptakan sebuah alunan memorable yang bikin pendengar seolah tersihir dalam balutan musik yang dreamy, kalem, dan disuatu sisi cukup membuai. Kalo ditarik ke Surabaya dalam kondisi lagi di musim penghujan, awan kelabu yang kerap menggantung di langit kota bisnis di ujung Jawa Timur ini cocok buat nemenin kamu di jalan, pas lagi ngerjain kerjaan, atau lagi di dalam kamar sendirian sambil ngidupin lampu kamar low-watt yang temaram itu.
Call Me Tonight yang berdurasi relatif “aman” ini (tiga menit pas cuy!) menyajikan dinamika instrumen yang memperpanjang mimpi. Dildu yakin, siapapun akan marah kalo diganggu pas lagi dengerin ini lagu, apalagi dibangunin dari tidur pas lagi enak-enaknya mimpi indah apalagi mimpi basah, eh. Dengan lirik yang cenderung to-the-point, pendek dan tanpa basa-basi, lagu ini menyisakkan pertanyaan.
Dalam presskit-nya, ada gagasan dari The Mary’s Lost Gaze yang Dildu garis bawahi yaitu “…mengeksplorasi kontradiksi antara kebisingan dan ketenangan.” Sebuah gagasan yang menarik, karena ketika Dildu menuliskan artikel ini, kami juga ndengerin ini lagu sambil baca liriknya berulang kali. Apa yang kami temukan?
Dimulai dengan bait pertama:
Call the line / to the heart of mine / is it unavailable? / I’m laying on the floor / wrapped my fingers with the cord / I guess / nobody’s calling me tonight
Lalu dirangkum dalam bait reff:
Nobody’s calling me tonight yang dinyanyikan berulang, dan diakhiri dengan satu pertanyaan:
Oh why?
Dari sini, Dildu jadi berpikir apakah sosok yang diceritakan dalam lirik ini (POV-nya sudut pandang orang pertama guys) adalah sosok yang kesepian dan berharap ada yang reach out? Kalo pun demikian, kenapa bukan dia yang reach out duluan alih-alih hanya menunggu untuk “dipanggil” lewat telepon? Oke, asumsi kedua Dildu berlanjut ke bait lirik selanjutnya:
Fall behind / Do I need to find / a reason to call you / tonight
Lalu disusul dengan reff berulang yang menyisakkan tanya di bagian akhir: oh why?
Apakah sosok ini sudah masuk ke ranah self-alienation? Kalau iya, apa yang membuat dia merasa begitu kesepian sehingga dia merasa terasingkan dari dunia luar (beserta orang-orangnya) dan kenapa masih berharap “dihubungi”? Berharap di hubungi oleh siapa? Dan kenapa ada kalimat “nobody’s calling me tonight” bila memang yang dituju adalah satu orang? Dari sini pun, kontradiksinya berasa banget. Karena di bait akhir, si sosok ini seolah menyuruh seseorang-diluar-sana untuk menghubunginya:
Call me tonight / call me tonight / call me tonight / you never call me / at night
Dan lagi, pertanyaan yang sama diakhir bait lirik: oh why?
Dari sini pun, Dildu akhirnya menduga. Apakah sosok dalam lirik ini memang kesepian dan terasingkan karena nggak dapat perhatian dari kekasihnya (context yang Dildu dapat dari proses intepretasi, uhuy!)? Apakah si sosok ini terjebak dalam ritus hubungan asmara terselubung yang jadi judul lagunya NIKI yaitu backburner? Apakah dia termasuk salah satu simpanan Ridwan Kamil yang selama ini tidak terekspos? Atau simply ani-ani yang memang lagi lonely aja gitu. Karena di bait terakhir, Dildu jadi sus banget karena si sosok ini sambat gak pernah ditelefon AT NIGHT (baca: tiap malam). Hmm. Cuma personil band ini yang tahu deh kayaknya. Can I call you to talk bout this?

