Kembali lagi dengan band garage rock asal Surabaya yang bernama Electric Bird. Setelah merilis Sious (2024), kini mereka kembali dengan rilisan baru berjudul Aurora. Lagu kedua yang baru saja rilis ini akan menjadi bagian dari upcoming album mereka yang berjudul Odyssey. Udah bisa didengerin di Spotify!Rilisan kedua mereka ini barangkali bisa jadi gambaran tentang kerusakan alam yang sering kita jumpai beritanya. Nikel Raja Ampat, Lapindo, hingga kasus-kasus illegal logging yang kerap berkelindan di lini masa. Apakah itu yang jadi sasaran kritik trio nyetrum asal kota Pahlawan yang satu ini? Simak ulasan lengkapnya!

Barangkali memang ini lah konsekuensi negeri yang punya julukan gemah ripah loh jinawi. Artinya apa bang Messi? Artinya kekayaan alam yang melimpah; tentram dan makmur serta subur tanahnya. Dan pertanyaanya lagi nih bang Messi, bila berdampak pada lingkungan hidup siapa yang bertanggung jawab?
Bagi Dildu, Aurora bersuara untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Unsur keserakahan, ketidakpedulian, dan ketidakacuhan para pemimpin yang memegang keputusan juga patut diperhitungkan. Tak pelak juga fenomena kerusakan alam memberi dampak sosial dan ekonomi yang merugikan wong cilik. Ambil lah contoh kasus Lapindo yang menelan korban berupa area desa (tercatat 19 desa terimbas) dan 17 orang meninggal. Apakah cuma itu aja? Nggak! Ada penyakit yang menjangkiti warga sekitar akibat pencemaran udara karena semburan lumpur tersebut mengandung zat timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Sehingga, udara jadi beracun dan memunculkan pengidap ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) yang secara akumulatif bertambah jumlahnya. Sialnya, hal ini diprediksi akan menimbulkan gangguan jangka panjang berupa penyakit kanker.
Seperti yang Dildu sebut, lagu berdurasi 3:59 detik ini bersuara untuk mencari jawaban atas siapa yang bertanggungjawab. Seperti dalam penggalan lirik dibawah ini:
Tipu tipu akalnya
Kemana akal sehatnya?
Dalam context tragedi lumpur Lapindo, seperti yang dilansir dalam pemberitaan yang membahasnya, memang ganti rugi sudah dilaksanakan. Namun apakah mentok disitu saja? Bagaimana dengan jaminan kesehatan warga dan akomodasi lainnya? Toh keluarga pemilik perusahaan yang bersangkutan masih saja bisa bebas pergi kemana-mana karena ganti rugi sudah dibebankan ke negara. Kemana akal sehatnya? Tipu-tipu kah? HAHA!

