Stambul Arkipelagia Vol. 1 akhirnya rilis juga! Sebuah persembahan terbaru dari kelompok kepodang asal Surabaya yang telah terbentuk sejak 2009 ini. Tidak hanya membawa nuansa baru, tapi juga formasi baru! Adalah Silampukau yang mengkonsep perilisan albumnya seperti series. Di season ini, kita disajikan dengan lima lagu fresh-from-the-oven yang bisa didengarkan via Spotify!
Jadi, apa yang bikin album ini begitu memukau? Lanjutin baca aja sampai bawah!

Setelah melepas maxi-single Sepasang Kidung Celaka, kali ini Silampukau melepas Sejoli, Sejauh ‘Ku Memandang (Paceklik Blues), Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi), Prelude Al-Muqawim, dan In Memoriam…(Halimun Rahasia). Terangkum dalam judul Stambul Arkipelagia Vol. 1 yang terdengar folk (pastinya), country, dan swing-y.
Dari lima track tersebut, Dildu tertarik pada Sejoli dan Sejauh ‘Ku Memandang (Paceklik Blues) sebagai pengantar buat kamu yang mau memasuki sebuah negeri yang bernama Arkipelagia.
Sejoli memiliki instrumentasi yang dinamis dan harmonis. Kontrabass, piano, gitar akustik, dan drum yang memainkan corak musik swing-y nan jazzy era 1940’an namun dengan beat dan tempo yang relatif cepat. Menguarkan nuansa yang menyenangkan sekaligus mendebarkan, menjadi penguat representasi kisah romantika yang digambarkan liriknya.
Oiya, di lagu ini ada dua tokoh bernama Bobby (the playboy) dan Erika (ehm, kayaknya sih playgirl ya). Karena liriknya penuh siratan makna yang menarik untuk dikulik, namun toh sejatinya penggambaran tersebut kentara.
Bobby:
tak suka tanaman,
pecandu tantangan,
selihai Don Juan,
sejenis siluman.
Penyusup ahli relung-relung hati,
penyergap ternama semua
binatang asmara.
Erika:
serupa bunga Kusuma Neraka,
pecinta perkara, muasal awal prahara.
Sutradara ahli cipta-situasi,
arsitek adiksi,
prosais tragedi kiwari.
Jalannya lagu menceritakan tentang hubungan asmara-senggama yang melahirkan seorang anak. Dan, terkuaklah tabir yang “sesungguh”-nya dari pesan yang ingin disampaikan:
… Amboi, garis dua!
Gesit betul berenangnya!
Amboi, nasib apa
yang sembunyi menantinya,
di neg’ri sengeri hari-hari ini,
di ambang tirani?
Hai, anak binatang asmara!
Seorang anak lahir dari persenggamaan Bobby dan Erika. The innocent child itu lahir di negeri yang dibayangi oleh kengerian dan bahaya tirani. Wani seh iki diundang nang #SelisikLirik. Hehe.
Lalu ada Sejauh ‘Ku Memandang (Paceklik Blues) yang berbunyi ke-country-an, dengan suara gitar yang dramatis, serta harmonisasi instrumen lainnya yang membentuk suatu nuansa ironis. Lagu ini justru menggambarkan nasib prahara yang relevan jika dikaitkan dengan climate change, gejolak alam, dan kesengsaraan kaum tani.
Padi hampa tiada tinggi September ini,
bara cuaca memanggang segalanya:
ladang gemersang sejauh ‘ku memandang.
Kemarau t’lah menang, paceklik datang, paceklik panjang.
Dan padi mati penuh ironi Januari ini,
murka cuaca merendam segalanya:
rawa membentang sejauh ‘ku memandang.
Penghujan datang, paceklik t’lah menang, paceklik panjang.
Bila padi tunduk kian berisi di panen ini,
iblis mengintai, mengincar segalanya:
utang membayang sejauh ‘ku memandang.
Kemarau datang, paceklik menang;
paceklik panjang.
Penghujan datang, paceklik menang;
paceklik panjang.
Sebuah paceklik yang mengakibatkan krisis pangan; suatu prahara yang bisa jadi salah satu faktor huru-hara sebuah negeri yang notabene terletak di tengah garis khatulistiwa. Amboi!
Selebihnya bisa kamu dengerin sendiri ya! All in all, Silampukau selalu bikin terpukau dengan album yang memukau.

