Nggak usah malu apalagi merasa terganggu! Buat kamu para pengidap depresi, ini ada lagu buat kamu. Adalah Her Dirty Floor, band shoegaze, sombre rock dan post-rock, asal Malang yang mengalunkan “anti-depressant” bernama Flatline. Lagu ini sekaligus menjadi pembuka sebelum mereka merilis album debutnya. Sudah bisa kamu dengerin di Spotify.

Mengulas tentang lagu terbaru dari band ini perlu kiranya kita mendefinisikan apa itu depresi. Depresi adalah gangguan mood yang berdampak pada fisik dan cara kerja otak. Dampaknya akan membuat seseorang kehilangan minat pada hidup, merasakan kesedihan yang berkepanjangan, dan tentunya mempengaruhi perasaan, cara berpikir, bertindak, serta membawa pada kondisi mental yang tidak stabil. Sehingga, orang yang punya gejala depresi diantaranya akan merasa kosong, tidak ada harapan, susah melakukan aktivitas keseharian, hingga mengurung diri.
Sebab-sebab depresi bisa bermacam-macam. Bisa dari trauma, duka, dan kombinasi-kombinasi lain yang dialami oleh seseorang sebagai bagian dari pengalaman hidupnya yang tidak mengenakkan.
Dildu selalu “angkat topi” untuk musisi yang menyuarakan tentang depresi. Salah satunya Her Dirty Floor ini. Di lagu berdurasi 3:24 detik ini, mereka menggambarkan kepasrahan dari seseorang yang depresinya sedang kumat. Penggalan di bait pertama liriknya menggambarkan itu semua:
Stranding in the deep
Slowly losing my grip
As I’m waiting slowly
I writhe in pain
The time remains
Waiting in disbelief
Sosok yang digambarkan itu sedang merintih, dia sudah terpisah dari realita dan tenggelam pada depresinya. Namun dia tetap menunggu (as I’m waiting slowly) untuk masa kumatnya hilang; namun itu keniscayaan (I writhe in pain / the time remains / waiting in disbelief). Buat teman-teman yang mengidap depresi, bakal sangat relate dan betapa menyiksanya itu semua.
Lalu di bait kedua, suara vokal perempuan muncul. Dia adalah mbak Nara, solois juga, yang kebetulan ikut mengisi vokal dalam lagu ini. Suara yang berkarakter itu pun sangat cocok dengan alunan shoegaze-post rock. Mengamplifikasi nuansa kesakitan dari orang yang mengidap depresi. Karakter instrumennya pun sangat dingin yang memberikan hint dramatis. Bayangkan kamu lagi diruangan yang redup; hanya ada sedikit cahaya, bahkan mayoritas gelap. Nah, disitulah si dia yang digambarkan dalam lagu ini sedang sendiri, merintih disiksa depresi.
Dalam hal ini pun, Dildu mau berpesan. Pahami orang-orang sekitar yang kamu sayangi. Jadi lah sanctuary untuk mereka. Namun diatas itu semua, pahami dirimu sendiri agar kamu bisa mengerti kapan pasrah, kapan legawa, kapan harus berjuang dan kapan harus merelakkan. Karena depresi itu datang ketika kamu kalah dengan persepsi dari peristiwa pahit yang pernah kamu alami.

