Liputan

SAMATUNES VOL 4: YANG BIKIN WEEKEND SELALU MENYENANGKAN!

Siapa yang sering nongkrong ke Samata House? Sebuah café yang kalau cuma dibilang demikian akan sangat mereduksi peran dari tempat tersebut. Bangunan bergaya rumah hindia-belanda ini boleh dikata merupakan youth hub dengan unsur kreatif yang sering diusung oleh si empunya. 

Adalah Samatunes, gig mingguan yang menampilkan band-band indie Surabaya dan gak menutup kemungkinan juga band luar kota yang kebetulan ada hajatan tour bisa main kesitu. Nah, Dildu bertamu untuk kesekian kalinya di gig keempat yaitu Samatunes Vol. 4.

Acara ini bisa dibilang sangat konsisten dalam menyajikan malam yang dimana kamu bisa sekalian support band lokal dan sekalian ngerameni acara biar kelihatan mantab dokumentasinya. Kabarnya, panggungan ini akan diadakan sebulan sekali. 

Khusus di malam itu, si empunya menyajikan empat band yaitu The Wallflower Dept, Lordelee, Kita Adalah Hewan dan Pamlax. Namun sayang, band yang terakhir disebut itu batal manggung karena terkendala usia (btw, drummernya Pamlax itu notabene masih anak-anak sekaligus gitaris-vokalnya juga, red). Ini karena ketentuan dari pihak sponsor yang mengharuskan 21+.

Sedikit gambaran buat letak acara ini. Bagi Dildu sangat unik. Kok bisa gitu? Ketika kamu sampai di Samata, kamu harus masuk agak ke dalam melewati halaman depan, meja bar dan ke belakang arah toilet. Disitu ada sebuah space gak begitu besar, satu letak dengan area dapur. Walau demikian, bisa dibilang sangat intimate dengan lantai batu kerikil. Jarak antara panggung dengan penonton cuman dipisah oleh badug (baca: bangku paten). Seringnya aksi panggung band-band yang ikut disitu vokalisnya naik ke badug-an tersebut.

Oke, malam itu acara dibuka oleh The Wallflower Dept. 

Band shoegaze asal Surabaya ini memuntahkan alunan musik yang membuat hari Minggu terasa lambat berlalu. Dan, musik mereka ibarat sungai yang tenang, namun siapapun yang mengambang diatasnya akan hanyut ke dalam. Performance mereka penuh dengan akrobat sound yang dilakukan Glaop (gitaris) yang kreatif banget mainin efek-efek gitar yang tertempel pada pedalboard-nya termasuk cara dia strumming gitar yang menghasilkan dengungan reverb adiktif, Karisma (gitaris-vokal) yang “menjiwai Shoegaze” sebagaimana mestinya (fyi, di live show-nya malam itu dia selalu lihatin bawah terus, entah karena memang mengagumi sepatunya yang terlihat kinyis, keinget kunci motornya tadi di taruh mana, atau memang dia tuh orangnya Shoegaze banget). Bassistnya yang matanya kemana-mana seolah musik yang dimainkannya bikin nge-fly gitu, ditambah drummernya yang murah senyum menggepuk tatanan alat drum tersebut dengan energik. Band shoegaze dari Surabaya yang satu ini bikin Dildu angkat topi melihat performance-nya yang luar biasa shoegaze (walau di lagu pertama vokalnya ada yang sedikit mbleset, red).

Setelahnya ada Kita Adalah Hewan (sumpah ini nama band! Red). 

Well, untuk performance kedua ini awalnya memainkan lagu Turnstile. Oh! Rupanya mereka nge-cover toh. Gimmick-nya oke, girlie banget, terutama di segi mikrofon berpucuk pink yang dipegang vokalisnya dan drummer yang bertopeng donkey. Setelahnya band ini perform membawakan lagu-lagu sendiri seperti Wibu, terus main pop-pop’an yang Dildu dengernya kok irama dan warna instrumentasinya kayak lagu’ne Reality Club. Overall, band yang digawangi dua puan dan tiga tuan ini tampil energik sampai keringetan! Apalagi penonton…

Dan penampil terakhir sekaligus penutupan ada Lordelee.

Mbak-mbak berambut bondol dengan karakter emosional yang kadang bisa centil, ramah, namun disuatu sisi memendam bara dalam sekam (emotionally, red). Solois wadon asal Surabaya yang satu ini memainkan lirik-lirik yang penuh amarah, disuatu sisi mengingatkan, tapi mostly marah-marah. Memainkan lagu-lagunya seperti For This City Zoo, Skint (ya ini yang Dildu maksud ‘mengingatkan’, red) yang kira-kira kalau kamu miskin bakal gimana rasanya, terus disambung dengan Silent Wishes, Crown, dan secara bergiliran ada cover lagu NIKKI berjudul Backburner, Rib, Jennifer’s Body dan Buzzkill. Alig sih!

Semoga Samata House selaku empunya acara tetap konsisten dalam menyajikan malam penuh peluh dan mendekatkan band kepada para pendengarnya. Love it! 


EVANDAFOXX

EVANDAFOXX

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Liputan

X-GO & Wisma Jerman: Commemorating East Side Gallery Dan Kritik Kehidupan Dunia Maya Lewat Pameran Karya Visual “Cocot Kencono”

(20/05/24) – Terdengar gaung suara seni-senian di Surabaya. Kala itu Wisma Jerman yang terletak di  Jl. Taman AIS Nasution No.
Liputan

MAIN LOBBY: BAWA TINDAKAN BUAT ORANG SAKIT!

(18/05/24) – Malam minggu memang waktunya asik-asikan. Terutama buat mereka yang butuh asupan “penyembuh” or some kind of medicine biar