(20/05/24) – Terdengar gaung suara seni-senian di Surabaya. Kala itu Wisma Jerman yang terletak di Jl. Taman AIS Nasution No. 15, Embong Kaliasin, Genteng, jadi pusatnya. Acara seni bertajuk East Side Gallery Meets Surabaya ini menampilkan beat-beat Hiphop lewat Hip Hop Talent Competition yang diisi oleh talenta-talenta beatbox, rap dan breakdancer.

Acara berikut merupakan ruang kolaboratif yang kebetulan mengangkat tema Street Art atau Seni Jalanan yang terinspirasi oleh East Side Gallery di Berlin-Friedrichshain, yaitu sebuah galeri jalanan ber-medium-kan bekas runtuhan tembok Berlin yang sempat menjadi simbol polarisasi dua kekuatan besar dunia antara blok Barat dan blok Timur circa 1945 s/d 1980’an.
Selain Hip-Hop Competition, ada pula workshop tari dari Sawung Dance Studio, pameran bertajuk Mouth Opera dari X-Go beserta jajaran Bunuh Diri Studio yang juga mengadakan Paper Mask Workshop khusus anak-anak bertajuk Kelas Semesta. Di acara itu, kesenian berbaur mesra dan berjalan dengan begitu menyenangkan.

Adanya pameran seni visual Cocot Kencono juga menjadi ruang diskusi yang introspektif bersama Evanda (Dilarang Duduk), X-GO (Bunuh Diri Studio) dan Ayos Purwoaji (Kurator Seni Visual). Ya you know lah, ruang maya yang identik dengan media sosial sering membawa keriuhan dan kericuhan. Banyak dampak berpengaruh pada dunia nyata, salah satunya seperti yang diresahkan oleh X-Go bahwa pertemuan secara fisik seolah tereduksi karena distraksi gawai. Orang lebih banyak menghabiskan waktu di medsos, sehingga interaksi sosial secara nyata menjadi hal yang sekunder.

Dua puluh lima karya visual Cocot Kencono yang terpampang di ruang Halle milik Wisma Jerman adalah rangkaian dari Mouth Opera, sebuah pameran seni visual dari sosok seniman jalanan asal Surabaya yang telah malang-melintang di skena Street Art Surabaya, X-Go.
Well, panjang umur terus seni jalanan dan pastinya ditunggu acara selanjutnya dari Wisma Jerman, auf wiedersehen!







