
Kali ini Surabaya melahirkan unit post-hardcore baru (btw, istilah ‘post-hardcore’ disini arahnya beda ya dengan referensi anak jaman sekarang, red) yang bernama Obeiv. Kuartet pria bertulang keras ini memiliki materi musik yang mengingatkan kita pada post-hardcore di era 2010’an ke atas.
Oke disini Dildu mau mereview dua lagu mereka yang berjudul Lelah dan Karma (yang satu ini masih anget dirilis awal Desember 2024 ini).
Kalau ditinjau dari segi aransemen musik di lagu Lelah, band ini tuh sound-nya bisa dibilang semacam Divide di album The Sun, The Moon and The Truth (2012), tapi ada hint tipis ala-ala metalcore-nya Miss May I. Musik mereka lumayan kencang dengan beat dan breakdown yang bisa merangsang headbang. Nah, untuk di lagu Lelah ini mereka menyuarakan capeknya hidup. Seolah hidup segan, mati tak mau (intine tetep ngelakoni orep masio sambat, red).
Sedangkan di lagu Karma, secara musikalitas temponya agak sedikit slow dibanding dengan lagu pertama tapi ada naik-turunnya (yoiyo jenenge ae post-hardcore, red). Yang bikin catchy adalah bagian saxophone yang membuat lagu ini tuh seksi banget (btw, mereka fituring sama Ifan, saxophonist yang juga seorang guru musik, red). Nah, di lagu ini mereka tuh bukan lagi menyuarakan, tapi lebih memperingatkan kalau apapun yang kamu lakuin (dan itu jahat), insyallah karma akan menemuimu. Kalau istilah orang Jawa tuh: “Gusti Allah mboten sare” (baca: Allah tidak tidur, red).
It’s a good one and worth your ears! Go check it out on your Spotify!

