Mas Amis memang menggelorakan dan rawan memantik pergerakan sosial-politik. Lewat lagu terbarunya yang berjudul Local Wisdumb, dia memberi sumbangsih baru untuk khazanah musik perlawanan di Indonesia. Diproduseri oleh Iga Massardi (Barasuara), lagu ini sudah bisa kamu dengerin di Spotify!
Menariknya, seperti yang dikatakan dalam presskit, mas Amis berbicara soal negara yang sejatinya sama kayak di zaman kolonial dulu: para petinggi yang memperkaya diri, rakyatnya dibodohi dan dibiarkan mati. Simak ulasan lengkapnya dibawah ini.

Arti local wisdom adalah nilai-nilai luhur di dalam sebuah masyarakat yang berimplikasi pada cara pandang dan sifatnya yang mengatur pola perilaku (akhlak, moral, dst) orang-orang di dalam masyarakat itu sendiri. l ocal wisdom ini bersifat abstrak, dia ada tapi kebanyakan tidak tertulis namun mengikat. Dia berupa ide yang terejawantahkan menjadi wacana, anjuran, larangan, dan cara hidup.
Di tangan AMIS, kalimat itu di twist menjadi Local Wisdumb. Yap, kerap kali apa yang kita sebut sebagai local wisdom disini sangat bertolak-belakang. Sangat satir, namun disatu sisi berani. Lewat lagu berdurasi 2:30 detik ini, sosok solois berambut gondrong yang akan merilis album di September 2025 ini ngerasani negara:
Bantuan sosial jadi andalan
menghambat keahlian
dan juga kecakapan
B.A.N. S.O.S.
Krisis penghasilan terjadi lagi
Laporan royalti oh wahana monopoli
Oh Why Me?
Tanda tanda kiamat menurut ahli
Bernalar, beropini, berseni dibatasi
Social media jaringan aktivis
Polisi mendalami karakter antagonis
No viral no justice
Ngerasani negara yang variabel nya sangat kompleks, namun disederhanakan menjadi tiga stanza. Pertama, polemik BANSOS yang sempat ramai. Bagi Dildu, kalimat BAN SOS (ada spasi disitu) seolah mengimplisitkan makna bahwa hal-hal sosial yang seharusnya sering dilakukan negara seolah di ban (baca: dilarang) oleh otoritas pengampu kebijakan (baca: pemerintah). Kedua, krisis penghasilan yang terkesan multi-tafsir dan relatability-nya bisa kamu terka sendiri. Ketiga, laporan royalti? Lihat kasus Vidi Aldiano dengan Keenan Nasution, Ahmad Dhani dan… aah, masih banyak yang bisa Dildu tulis untuk membeberkan kemungkinan-kemungkinan referensi makna yang disimbolkan dalam liriknya mas Amis.
Teruslah kau bodoh dan jangan pintar
Teruslah percaya dan jangan bernalar
Teruslah kau bodoh dan jangan pintar
Negara tipu daya belaka
Menuhankan manusia dan mantra-mantra
Percaya kepada yang tidak seharusnya
Logika mistika datuk malaka
Komunis katanya bangsat tak beragama
Ah masa?
Propaganda cinta dan eksekusi
Sebagian sejarah tidak teredukasi
Ah manipulasi
Coba resapi. Coba ilhami. Coba cari. Agar kita sebagai warga negara tidak selalu dibodohi dan punya “rompi anti manipulasi” dalam kepala kita masing-masing. Baris kedua yang berkata teruslah percaya dan jangan bernalar sekiranya menyiratkan kata Karl Marx tentang “opium” namun disatu sisi juga kita sering teralihkan dari isu-isu besar yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang rekayasa pengalihan isu seperti kasus anak Nikita Mirzani dan yang baru-baru ini, ituloh yang tiba-tiba hamil sembilan bulan sama Panda, yang membuat kita lalai terhadap vonis Tom Lembong dan soal tambang ilegal di IKN yang merugikan negara sampai triliunan rupiah. Hehe. Waduh, kayaknya oke juga nih kalau beliau diajak ke kontennya Dildu yang #SelisikLirik. Haha.
All in all, bagi Dildu mas Amis ini adalah pendekar suara! Gak cuma melawan saja, dia juga punya lagu introspektif seperti pada EP Surga Ada Di Telapak Kaki Bapa (2021). Sumpah, ini worth it!

