Kali ini ada satu band Bogor (lagi) yang presskit-nya mampir ke email Dilarangduduk. Adalah Pastula, band rock dengan musikalitas easy listening dan lirik berbahasa Indonesia yang ciamik abis. Mereka telah merilis maxi-single berjudul Bunyi Mesin & Nyamuk Kota dan Setia Di Pintumu, Membawa Nyawa (2025). Perilisan tersebut dinaungi oleh Tromagnon Records, label asal kota yang sama dan pemilik acara bernama Tromagnon Showcase.
Untuk lagunya Pastula udah bisa kamu dengerin via Spotify! Untuk ulasan dan alasan lengkap kenapa mesti dengerin lagu ini bisa lanjutin baca sampai bawah…sampai bawah…

Empat pria bernama Alvian Jamil (gitar & vokal), Muhammad Ridwan (gitar), Azis Nugroho (bass), dan Rieyo Dwi Septa Braga (drum) adalah nama-nama penghuni band yang terinspirasi oleh Fistula, artwork dari mendiang Kurt Cobain, vokalisnya Nirvana. Nama artwork tersebut di plesetkan menjadi nama band yang sedang menyiapkan album penuh setelah merilis maxi-single ini.
Anyway, dua lagu mereka ini merupakan depiksi sosial dan perasaan. Yang seperti apa? Gini…
Di Setia Di Pintumu, Membawa Nyawa, alunan indie/rock mereka yang terkesan santai tapi sangat representatif ini menceritakan tentang fenomena prosedural institusi kesehatan (baca: Rumah Sakit. Alih-alih pasien ditindak terlebih dahulu, justru mereka (baca: tenaga medis) itu memprioritaskan proses administrasi. Mungkin gak semua RS seperti itu, dan kalo pun begitu tenaga medis ini pasti lah mengikuti prosedur. Tapi dalam liriknya, Pastula menyiratkan rakyat miskin yang kadang berada diluar “layanan prioritas” dan notabene korban kesenjangan:
Harapan mereka kau ada
Uang mereka tiada
Mereka disana, kau hampiri
Lalu kau beri
Harapan itu merepresentasikan bahwa tenaga medis dapat menumpas masalah kesehatan. Tapi, bagi pihak pasien miskin mereka sukar keluar uang (ya simply miskin, red). ‘Mereka disana kau hampiri / lalu kau beri’ kurang lebihnya bukan memberi tindakan, tapi menyodorkan surat-surat prosedural atas nama administrasi (ini intepretasi Dildu ya, red). Justru karena kalimat mereka disana kau hampiri lalu kau beri tidak ada lanjutannya, maka ada kesan ambigu yang mengundang ragam tafsir. Apa benar menyodorkan surat prosedural atau lain maksud? Overall, kesan dari lirik lagu ini seolah Pastula menyampaikannya langsung kepada tenaga medis. Seperti pada bait pembuka yang mendahului kutipan lirik diatas:
kau telah disumpah, lihat mereka
setia di pintumu, membawa nyawa
menanti harapan, tolong bukakan
tolong bukakan, kau ada kuncinya
Sedangkan di lagu Bunyi Mesin & Nyamuk Kota kurang lebih mendepiksi anak rantau yang rindu rumah beserta penghuni di dalamnya. Menurut presskit, penggambaran pada lagu cenderung menceritakan anak rantau yang rindu Ibu, specifically. Namun, ada keterbukaan makna universal yang context-nya bisa ditarik ke, misalnya, sosok pencari nafkah (baca: ayah) yang harus merantau jauh dari keluarga agar dapur tetap ngebul atau sosok kekasih yang tak tahan LDR (baca: long distance relationship). Sisanya adalah soal rasa. Here’s the lyric:
Lima dari tujuh, dua yang aku nanti
Lima adalah peluh, dua itulah kasih
Hitam semakin kelam, merah tentu Bahagia
Sejuknya rindang pohon
aku berdoa dalam damaimu
berharap cepat bertemu
ku akan selalu merindu
lembut kedua tanganmu
Jarak ciptakan rindu
Jarak ciptakan kasih
Jarak ciptakan rasa
Jarak ciptakan sedih
dendang petir dan rintik hujan
antarkan aku berselimut malam
bunyi mesin dan nyamuk kota
antarkan aku bertelanjang
dan aku selalu berdoa
didalam deras gusarnya
berharap cepat bertemu
ku akan selalu merindu
Jarak ciptakan rindu
Jarak ciptakan kasih
Jarak ciptakan rasa
Jarak ciptakan sedih
Nice try! Musikalitas band ini secara garis besar sangat layak untuk terbang lebih tinggi. Dan semoga demikian, karena band ini juga akan merencanakan perjalanan tur.

