Berdomisili di Yogyakarta, LASTKISSTODIEOFVISCEROTH yang akrab disebut LKTDOV telah menerbangkan self-titled EP album terbarunya. Enam pria yang berada di balik moniker ini adalah Indra Menus (vokalis & penulis lirik), Ariyo Pancala (drummer & gitaris), Adiwisanghagni Diponegoro (lead gitar), Justiawan Yudha (gitar rhythm), Wahyu Septian (synthezier), dan Aditya Fauzan (bass).
Album terbaru mereka yang dikerjakan di Jogja Audio School ini punya kekuatan magis either from lirik dan instrumentasinya. Unit Skramz / post-rock / emo yang satu ini worth it banget buat dijadikan asupan baru buat telinga agar gak dengerin yang itu-itu aja.

Dalam album self-titled ini total ada empat tracks. Jajaran tracks tersebut punya sisi magis dari liriknya. Di Is This Still Worth Putting Our Lives On Hold For? selaku pembuka, pendengar akan disuguhi dengan teriakan parau dan instrumentasi ala Touche Amore. Liriknya tentang apa? Kalo yang Dildu tangkap, tentang kefanaan; walau tahu dunia ini fana (baca: gak selamanya), masih ada keindahan yang bisa disaksikan. Dan, keindahan itulah yang menjadi alasan untuk terus menjalani hidup sampai kematian datang untuk membawa ke alam seberang. Ini nih liriknya nih:
There’s always time to do the things you love
’till it’s gone
Any romantic idea of holding hands,
Quickly abandoned
Is this still worth putting our lives on hold for?
You decide
If the rest of the world had disappeared,
We were, the only ones left alive
The rest of our life, trying to find, another one
Ended up, empty, handed
The sound of our voice was weighted
Like the way a branch heavy with snow bows
Down before it breaks
Somewhere, so much beauty there
That also has death
Somewhere, so much beauty there
Somewhere, I’ll take you to there
To the end of our life
Perlu diberi disclaimer, ini adalah hasil pemaknaan pribadi Dildu yang bisa jadi beda kalau di kamu. Tapi dari situ lah serunya, karena akhirnya sebuah karya akan bisa jadi bahan bahasan.Terus di In The Silence I Whispered Your Name terasa begitu pelan. Tempo yang tadinya kencang di lagu pertama, di lagu ini kita diajak untuk berhenti sejenak dan menengadahkan wajah ke sinar mentari saat dia berjalan menuju senja. Ada suara dari mbak Hervina Orelia (Noire) yang legit banget dipasangin sama nuansa post-rock. Kesan yang Dildu dapat ketika dengerin nih lagu sambil baca liriknya adalah: di saat orang mau meninggal (baca: sekarat / sakaratul maut), sepersekian detik ketika ruh ditarik oleh kematian, otak kita akan memutar ulang kenangan dalam hidup (Honderich, 2022). Dan sepertinya, di lagu ini, LKTDOV menggambarkan seseorang dalam kondisi koma dan deathbed (baca: dalam proses sakaratul maut).
In a twilight’s hollow, where shadows play
Find yourself ensnared in an elusive sway
Like autumn leaves, our moments wither fast
An ephemeral beauty, we have lost in the past
Your eyes pierce through my soul
A reminder of what can never be whole
In secret chambers of the heart, we conceal
The anguish of love that we cannot reveal
In waking hours, my heart still beats
For the ghost of you, my eternal defeat
In the silence, I whispered your name
A haunted melody, an eternal flame
A cruel fate, why must we adore?
What we cannot hold, what we cannot explore
Right now, I’ve found my demise
A bittersweet symphony, forever in my eyes
Disclaimer-nya sama ya. Hehe.
Sisa dua lagu bisa kamu dengerin dan maknain sendiri. Infonya, di Like a Distance, Memory Swallowed Everything berisi potongan dari karya Pablo Neruda berjudul The Song of Despair. Di lagu terakhir dalam EP ini ada versi akustik dari Joy, Lie, Nor Desire.
Jangan lupa juga ada album All We Have Left is a Memory of Yesterday (2015), enak banget njir sumpah!
In conclusion for the self-titled EP album, really gets us into climaxxx and to reflect, recollect as well as memorize reminiscence of the past with such blows and various nuance! You must feel the taste!

