Untuk menjawab tentang Lordelee coba pikirkan Avril Lavigne, atau Heather Baron-Gracie nya Pale Waves. Personanya memper kayak dua artis tersebut. Tapi, Dildu gak berusaha menyerupakan Lordelee hanya saja same persona but different music.

Setelah merilis Stuck (2022), Crown (2023), Skint (2023), Blurry Lines (2023), doi kembali dengan single terbaru berjudul Rib (2025). Bagi Dildu, ini versi non-raucous tapi tetep marah-marah dan njanget sebagai bentuk persona musisi yang juga punya usaha F&B bernama Nasi Rasi ini.
Instrumentasi dari Rib sangat “kosong”. Alih-alih menyebutnya simple, gubahan instrumen dari lagu ini justru menggambarkan perasaan yang kosong akibat tekanan mental terhadap ekpektasi. Bagaimana suara gitar akustik kopong yang raw, mengalun untuk mengantarkan perasaan stress dan dendam karena kediktatoran orang tua. Ya, musisi berambut bondol ini seolah memberikan statement kepada kedua orang tuanya bahwa SEBAGAI SEORANG ANAK DIA JUGA PUNYA MIMPI TAPI KENAPA MIMPI MEREKA YANG HARUS DIA HIDUPI? Merasa relate? Kalo iya, berarti kamu menemukan perwakilan rasa yang tepat!
Kesan dari lirik yang dinyanyikannya terasa sangat dingin. Seolah, Lordelee saking capek dan letihnya, dia menjelma menjadi sosok yang dingin, tiap kata-kata orang tuanya dia iyain, tapi jauh didalam lubuk hatinya ada bara dalam sekam yang menyala, yang lalu dipertegas dengan stanza berikut:
I want you to believe
just wait and see
your words will not define my worth
im gonna prove you wrong
just wait and see
just wait and see
your doubts and scorn
won’t dictate my destiny
Hal ini terjadi di kamu juga? Kalo iya, selamat! Kamu wajib ngefans sama Lordelee. Ckckck.
Dari lagu Rib, Dildu belajar bahwa adagium “AREK JAMAN SAIKI ANGEL DIKANDANI” (baca: anak jaman sekarang susah kalau dinasehati) yang sering terlontar dari mulut para orang tua didalam forum seumuran mereka sudah tidak berlaku. Bukan berarti tidak menghormati orang tua ya, tapi kadang orang tua kita luput dan lupa, bahwa ego mereka telah menguasai dirinya yang lalu mendikte anaknya untuk jadi ini-itu sesuai dengan standar nilai yang mereka anggap merupakan suatu hal yang tepat (contoh: puncak kesuksesan adalah jadi PNS kalo nggak gitu ketrima jadi aparat, red).
Dari sini, Dildu juga berani bilang bahwa Lordelee menyalakan kobar perlawananan. Bukan untuk menjadi anak yang kurang ajar nan durhaka, tapi dari ego orang tua. PEACE!

